20130912

Teori-Teori Media Massa


AUDIENCE DAN PENGARUHNYA TERHADAP KOMUNIKASI MASSA

Teori-teori hubungan antara media massa, audience, dan efek. Tiga teori yang dominan dari pendekatan dimana audience sebagai fokusnya, yaitu uses and gratification, uses and effects, dan information seeking.

A.           PENDEKATAN USES AND GRATIFICATION
Pendekatan ini memusatkan perhatian pada penggunaan(uses) isi media untuk mendapatkan pemenuhan(gratification) atas kebutuhan seseorang.
Prilaku audienca dijelaskan melalui berbagai kebutuhan(needs) dan kepentingan(interest) individu.
Katz (1974) menggambarkan logika yang mendasari  penelitian mengenai media uses dan gratifications sebagai berikut:
{1}Kondisi sosial psikologis seseorang akan menyebabkan adanya {2}kebutuhan, yang menciptakan {3}harapan-harapan terhadap {4}media massa atau sumber-sumber lain, yang membawa kepada {5}perbedaan pola penggunaan media yang akhirnya akan menghasilkan {6}pemenuhan kebutuhan dan {7}konsekuensi lainnya, termasuk yang tidak diharapkan sebelumnya.
Cara Berfikir Uses And Gratification
Berdasarkan pengalamannya, seseorang mengharapkan penggunaan media akan memberikan sejumlah pemenuhan bagi kehidupannya, namun pada saat bersamaan aktivitas ini juga menciptakan ketergantungan pada suatu media dan merubah kebiasaan- kebiasaan sebelumnya.

B.            TEORI USES AND EFFECTS
Konsep use(penggunaan) merupakan bagian penting dan pokok dalam  pemikiran ini. Pengertahuan mengenai penggunaan media dan penyebabnya akan memberikan jalan bagi pemahaman dan perkiraan tentang hasil dari suatu proses komunikasi massa.
Pemikiran Uses And Effects
Kebutuhan hanya salah satu dari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penggunaan media. Karakter inndividu, harapan dan persepsi terhadap media, dan tingkat akses kepada media, akan membawa individu kepada keputusan untuk menggunakan atau tidak menggunakan isi media massa.
Hubungan Antara Pengguna Dan Hasilnya, Dengan Memperhitungkan Isi Media
Pada teori efek tradisional, karakteristik isi media menentukan sebagian sebagian besar dari hasil. Dalam hal ini, penggunaan media hanya dianggap sebagai faktor perantara, dan hasil dari proses tersebut dinamakan efek. Dan uses and gratification hanya akan dianggap berperan sebagai perantara, yang memperkuat atau melemahkan efek dari isi media.

C.            INFORMATION SEEKING
Teori information seeking dikemukakan oleh Donohew dan Tiplon (1973), menjelaskan tentang pencariaan, penghindaran, dan pemprosesan informasi, disebut memiliki akar dari pemikaran dari psikologi sosial tengteang kesesuaian sikap. Salah satu asumsi utamanya, bahwa orang cenderung untuk menghindari informasi yang tidak sesuai dengan ‘image of reality’nya karena terasa membahayakan.
Konsep Teori Information Seeking
Konsep utama teori ini adalah image atau image of reality.
Konsep image ini mengacu pada pengalaman yang diperoleh sepanjang hidup seseorang dan terdiri dari berbagai tujuan, keyakinan, dan pengetahuan yang telah diperolehnya.
Image terdiri dari konsep diri seseorang dalam mengatasi berbagai situasi, dan  image of reality terdiri dari suatu perangkat penggunaan informasi yang mengatur prilaku seseorang dalam mencari dan memproses informasi.
Proses Pencarian Informasi Oleh Donohew Dan Tiplon
Proses dimulai ketika individu diterpa oleh sejumlah stimuli. Tahap berikutnya terjadi perbandingan antara stimuli(informasi) dan image of reality yang dimiliki individu tersebut. Berikutnya muncul persoalan tentang apakah stimili tersebut menuntut suatu tindakan. Selanjutnya, individu memerlukan feedback dari tindakannya untuk mengevaluasi efektifitas tindakannya. Proses ini dapat menghasilkan revisi pada images of reality seseorang.

Pengefektifan Komunikasi Pembangunan



Komunikasi pembangunan merupakan suatu strategi yang menekankan pada perlunya sosialisasi pembangunan kepada para pelaku pembangunan berupa penyebaran pesan oleh seseorang atau sekelompok kepada khalayak guna mengubah sikap, pendapat, dan perilakunya dalam rangka meningkatkan kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah untuk mencapai tujuan pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat.
Komunikasi dikatakan berhasil apabila antara pemberi pesan(fasilitator) dan penerima pesan(penerima manfaat dari pesan yang disampaikan) sama-sama merasakan adanya hasil, efek, atau manfaat yang didapat dari komunikasi yang dilakukan.
Fasilitator hendaknya adalah orang yang sudah dikenal atau disukai oleh sipenerima agar fasilitator bisa memenuhi atau mengetahui kebutuhan apa yang sedang dirasakan dan diperlukan oleh si penerima serta pesan yang disampaikan bisa menjadi pemecahan masalah yang sedang atau akan dihadapi penerima.
Komunikasi pembangunan menuntut kerja keras, kesabaran, membutuhkan banyak waktu dan sangat melelahkan. Demi terciptanya perbaikan dan kesejahteraan bagi masyarakat, dalam mengefektifkan komunikasi pembangunan menurut mardikanto(1997) perlu kiranya melakukan beberapa pendekatan.
Pendekatan perubahan terencana, pendekatan ini merupakan suatu proses merancang kegiatan-kegiatan yang menuju kepada perubahan-perubahan yang lebih cepat dibandingkan dengan perubahan yang akan berlangsung secara alami atau perubahan yang akan dilakukan oleh pihak lain.
Perubahan-perubahan yang telah dirancang untuk pelaksanaannya sangat membutuhkan tenaga-tenaga fasilitator yang handal demi tercapainya tujuan-tujuan yang diinginkan dimasa datang. Fasilitator berfungsi sebagai penggerak masyarakat untuk melakukan perubahan.
Pendekatan komunikasi, pendekatan ini menuntut peran fasilitator agar berani mengambil keputusan serta berupaya untuk menentukan ide yang sejelas-jelasnya dan menguji tujuan penyampaian ide yang sebenarnya sebelum menyampaikannya kepada masyarakat.
Pendekatan psiko-sosial, pendekatan ini mengharuskan fasilitator mampu memahami apa yang menjadi kebutuhan psikologis dan sosial masyarakat sebagai penerima manfaat untuk melakukan berbagai perubahan.
Secara psikologis, kebutuhan masyarakat diantaranya kebutuhan makan, minum, serta kebutuhan akan rasa aman. Sedang secara sosial penerima manfaat/masyarakat amat membutuhkan rasa untuk mencintai dan dicintai pihak lain serta kebutuhan akan perhatian dari fasilitator sebagai memotivasi untuk melakukan perubahaan.
Pendekatan pendidikan, komunikasi pembangunan merupakan proses pemberian respon (tanggapan) atas segala ransangan-ransangan (stimulus) yang diterima sebagai proses pendidikan.
Setiap fasilitator perlu memahami tanggapan dan stimulus tersebut, dikala memberikan tenggapan tentunya akan memperoleh suatu manfaat. Manfaat yang dapat diterima oleh penerima manfaat, bukanlah manfaat menurut fasilitator sebagai pemberi ransangan. 
Pendekatan pemasaran, komunikasi pembangunan sebagai proses pemasaran yakni menjual inovasi dari berbagai hasil penelitian kepada penerima manfaat sebagai konsumen. Seorang fasilitator untuk mengefektifkan kegiatan komunikasi pembangunan perlu membekali diri dengan berbagai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang biasa dimiliki dan diterapkan para pedagang atau pelaku bisnis pada umumnya.

20130803

Macam-macam suluk



Sebelum pelaksanaan suluk, seseorang itu harus mandi taubat dengan air yang bersih dengan niat, bahwa dia mandi taubat dari dosa lahir maupun batin karena allah swt. Setelah mandi taubat barulah dia melaksanakan beberapa shalat sunat, yaitu shalat sunat wudlu 2 rakaat, shalat sunat taubat 2 rakaat, dan shalat hajat untuk melaksanakan suluk 2 rakaat. Setelah itu dia berniat suluk menempuh jalan menuju kepada tuhan allah.

Dalam menjalani suluk terdapat beberapa macam seperti yang ditulis oleh saifullah al aziz. Dalam bukunya ia menjelaskan ada tiga macam suluk yang terdapat dalam ajaran thariqat, di antaranya adalah:

Suluk dalam bentuk ibadah, suluk atau katakanlah latihan dalam bentuk ibadah ini caranya ialah memperbanyak bentuk syari’at serta prosesi yang dimulai dari wudhu, shalat dengan zikir. Seorang salik yang melakukan latihan dalam bentuk ibadah ini tak segan-segan mengisi hari-hari dalam hidupnya dengan melaksanakan perintah yang wajib dan yang sunat layaknya yang dilakukan orang-orang islam. Prosesi dan latihan semacam itu dilakukan secara rutin dan berlangsung terus menerus setiap hari. Ia akan merasa berdosa dan gagal jika pada suatu hari atau pada suatu waktu ia sampai tidak mengerjakan suluk ibadah.

Suluk dalam bentuk riyadhah, riyadhah dalam tasawuf berarti latihan rohani dengan cara menyendiri pada hari-hari tertentu untuk melakukan ibadah dan tafakur mengenai hak dan kewajibannya. Latihan riyadhah meliputi meditasi, bertapa, berpuasa, menyepikan diri, menjauhkan diri dari pergaulan sehari-hari, mengurangi tidur, mengurangi bicara, mengurangi segala yang berhubungan dengan keduniawian, termasuk memisahkan diri dengan anak istri. Suluk riyadhah ini dilakukan semata-mata untuk menyucikan jiwa dan menghindari kesalahan. Dengan melakukan riyadhah ini diharapkan tuhan akan menghapus segala kesalahan yang selanjutnya akan mendapat ampunan, petunjuk dan berkah dari-nya.

Suluk penderitaan, suluk ini mencakup melatih jiwa dan raga agar mencapai kesempurnaan dalam beribadah yang dijalani dengan berbagai rintangan dan kesulitan yang menuntut keuletan dan keberanian, kesabaran dan ketabahan. Secara umum, suluk (latihan) dalam ajaran tarikat itu mencakup: ikhlas, muraqabah, dantajarrud. Tujuannya lebih terfokus pada pembinaan kepribadian yang merdeka, mandiri dan percaya diri.

20130720

Contoh Penulisan Naskah Berita



TANGGAL           :       11 DESEMBER 2012
JUDUL                  :       SYUKURAN WISUDA MAHASISWA
KAMERAMAN    :       EPRI YANTO
REPORTER          :       EPTHEALWAYZ

///LEAD///
TINGKATKAN SILATURAHMI/ ALUMNI UIN SUSKA RIAU GELAR SYUKURAN WISUDA MAHASISWA//
ACARA INI DILAKSANAKAN DI GEDUNG REKTORAT UIN SUSKA RIAU///

///PKG///
PULUHAN MAHASISWA/ HADIRI SYUKURAN WISUDAWAN/  BERTEMPAT DI GEDUNG REKTORAT/ UIN SUSKA RIAU//

SILATURAHMI INI DIGELAR OLEH HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB//

SYUKURAN DIHADIRI OLEH KETUA JURUSAN/ DOSEN BAHASA ARAB DARI MESIR/ ALUMNI/ DAN MAHASISWA/I PENDIDIKAN BAHASA ARAB//

ACARA INI MEMOTIVASI MAHASISWA UNTUK MENYELESAIKAN STUDY MEREKA SECEPATNYA//

 (SOT) MUSTAFA KAMAL/ KETUA HMJ

MENURUT DRS. ZULKIFLI M.ED/ KETUA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB/ HENDAKNYA MAHASISWA/I SEGERA MENGAJUKAN JUDUL SKRIPSI SEBELUM MELAKSANAKAN KULIAH KERJA NYATA (KKN)///

ACARA INI DIAKHIRI DENGAN PEMBERIAN BINGKISAN/ DARI KETUA JURUSAN DAN DOSEN/ KEPADA PARA ALUMNI PENDIDIKAN BAHASA ARAB/ UIN SUSKA RIAU///

EPRI YANTO/  MELAPORKAN///

20130712

Komunikasi Konflik



PENGERTIAN KONFLIK
Menurut kamus besar bahasa Indonesia konflik adalah percekcokkan, perselisihan, pertentangan. Konflik berasal dari kata kerja bahasa latin yaitu configure yang berarti saling memukul. Secara Sosiologis konflik diartikan sebagai proses social antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Jika dilihat definisi secara sosiologis, konflik senantiasa ada dalam kehidupan masyarakat sehingga konflik tidak dapat dihilangkan tetapi hanya dapat diminimalkan.
Konflik merupakan sikap saling mempertahankan diri sekurang-kurangnya diantara dua kelompok, yang memiliki tujuan dan pandangan berbeda, dalam upaya mencapai satu tujuan sehingga mereka berada dalam posisi oposisi, bukan kerjasama. Konflik dapat berupa perselisihan (disagreement), adanya ketegangan (the presence of tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antara kedua belah pihak, sampai kepada tahap di mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai penghalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing masing.
BEBERAPA FAKTOR PENYEBAB KONFLIK
Perbedaan individu yang didasari oleh perbedaan pendirian dan perbedaan perasaan. Setiap manusia memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda, sehingga dalam menilai sesuatu tentu memiliki penilaian yang berbeda-beda. Misalnya masyarakat menilai kebijakan pemerintah mengenai menaikkan harga BBM karena harga bahan mentah naik. Tentu setiap masyarakat akan menilai dengan pemikirannya masing-masing yang mungkin secara umum terbagi menjadi kelompok yang pro dan kontra.
Perbedaan kebudayaan sehingga membentuk pribadi yang berbeda
Orang dari kebudayaan berbeda, misalnya orang jawa dengan orang papua yang memiliki budaya berbeda, jelas akan membedakan pola pikir dan kepribadian yang berbeda pula. Jika hal ini tak ada suatu hal yang dapat mempersatukan, akan berakibat timbulnya konflik.
1.      Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok
Manusia merupakan mahkluk yang unik karena satu dengan yang lain relative berbeda. Berbeda pendirian, pemikiran, perilaku, kebiasaan, dsb. Dari perbedaan itu tentu timbul perbedaan kepentingan yang latar belakangnya juga berbeda. Misalnya mengenai masalah pemanfaatan hutan. Para pecinta alam menganggap hutan sebagai bagian dari lingkungan hidup manusia dan habitat dari flora dan fauna. Sedangkan bagi para petani hutan dapat menghambat tumbuhnya  jumlah areal persawahan atau perkebunan. Bagi para pengusaha kayu tentu ini menjadi komoditas yang menguntungkan. Dari kasus ini ada pihak - pihak yang memiliki kepentingan yang saling bertentangan, sehingga dapat berakibat timbulnya konflik.
2.      Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat
Perubahan merupakan suatu hal yang wajar didalam kehidupan bermasyarakat. Tetapi perubahan yang sangat cepat akan memicu timbulnya konflik. Misalnya masyarakat pedesaan yang secara umum matapencariannya bertani yang hidupnya bergotong-royong dengan jadwal waktu yang relative tidak mengikat, kemudian tumbuh suatu industry dengan waktu yang relative cepat dengan kebiasaan cenderung individualis, disiplin kerja dan waktu kerja ditentukan, yang secara umum mengubah nilai-nilai masyarakat desa tadi, tentu  akan menimbulkan konflik berupa penolakan diadakannya industry di wilayah itu.
AKIBAT-AKIBAT DARI KONFLIK
1.Konflik berakibat tidak baik, seperti :
a.       Menghambat komunikasi, karena pihak-pihak yang berkonflik cenderung tidak berkomunikasi.
b.      Menghambat keeratan hubungan.
c.       Karena komunikasi relative tidak ada, maka akan mengancam hubungan pihak-pihak yang berkonflik.
d.      Mengganggu kerja sama.
e.       Hubungan yang tidak terjalin baik, bagaimana mungkin terjadi kerjasama yang baik.
f.       Mengganggu proses produksi,bahkan menurunkan produksi.
g.      Kerja sama yang kurang baik, maka produktifitas pun rendah.
h.      Menimbulkan ketidakpuasan terhadap pekerjaan.
i.        Karena produktifitas rendah, timbullah ketidakpuasan terhadap pekerjaan.
j.        Yang kemudian berakibat pada individu mengalami tekanan, mengganggu konsentrasi, menimbulkan kecemasan, mangkir, menarik diri, frustasi dan apatisme.

2.Konflik berakibat baik seperti:
a.       Membuat suatu organisasi hidup, bila pihak-pihak yang berkonflik memiliki kesepakatan untuk mencari jalan keluarnya.
b.      Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan merupakan salah satu akibat dari konflik, yang tujuannya tentu meminimalkan konflik yang akan terjadi dikemudian hari.
c.       Melakukan adaptasi, sehingga dapat terjadi perubahan dan perbaikan dalam system serta prosedur, mekanisme, program, bahkan tujuan organisasi.
d.      Memunculkan keputusan-keputusan yang inovatif.
e.       Memunculkan persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.

Sedangkan menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel jenis-jenis konflik terbagi atas :
a.       Konflik intrapersonal.
Konflik intrapersonal adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik ini terjadi pada saat yang bersamaan memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.
b.      Konflik interpersonal.
Konflik ini adalah konflik seseorang dengan orang lainnya karena memiliki perbedaan keinginan dan tujuan.
Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok, Hal ini sering kali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas yang ditekankan pada kelompok kerja mereka . Sebagai contoh seorang individu dapat dikenai hukuman karena tidak memenuhi norma-norma yang ada.Konflik interorganisasi.
c.       Konflik antar grup dalam suatu organisasi
Konflik antar grup dalam suatu organisasi adalah suatu yang biasa terjadi, yang tentu menimbulkan kesulitan dalam koordinasi dan integrasi dalam kegiatan yang menyangkut tugas-tugas dan pekerjaan. Karena hal ini tak selalu bisa dihindari maka perlu adanya pengaturan agar kolaborasi tetap terjaga dan menghindari disfungsional.

PENGERTIAN KOMUNIKASI KELOMPOK
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya. Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok.
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antar pribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antar pribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok.
Komunikasi dapat digolongkan ke dalam tiga kategori:
1.      Komunikasi antar pribadi
Komunikasi ini penerapannya antara pribadi/individu dalam usaha menyampaikan informasi yang dimaksudkan untuk mencapai kesamaan pengertian, sehingga dengan demikian dapat tercapai keinginan bersama.
2.      Komunikasi kelompok 
Pada prinsipnya dalam melakukan suatu komunikasi yang ditekankan adalah faktor kelompok, sehingga komunikasi menjadi lebih luas. Dalam usaha menyampaikan informasi, komunikasi dalam kelompok tidak seperti komunikasi antar pribadi.
3.      Komunikasi massa 
Komunikasi massa dilakukan dengan melalui alat, yaitu media massa yang meliputi cetak dan elektronik.

Klasifikasi kelompok dan karakteristik komunikasinya
Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya tiga klasifikasi kelompok.
  1. Kelompok primer dan sekunder.
Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.
Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
    1. Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
    2. Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.
    3. Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya.
    4. Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
    5. Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
  1. Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan.
Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group). Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.
Menurut teori, kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normatif, dan fungsi perspektif. Saya menjadikan Islam sebagai kelompok rujukan saya, untuk mengukur dan menilai keadaan dan status saya sekarang (fungsi komparatif. Islam juga memberikan kepada saya norma-norma dan sejumlah sikap yang harus saya miliki-kerangka rujukan untuk membimbing perilaku saya, sekaligus menunjukkan apa yang harus saya capai (fungsi normatif). Selain itu, Islam juga memberikan kepada saya cara memandang dunia ini-cara mendefinisikan situasi, mengorganisasikan pengalaman, dan memberikan makna pada berbagai objek, peristiwa, dan orang yang saya temui (fungsi perspektif). Namun Islam bukan satu-satunya kelompok rujukan saya. Dalam bidang ilmu, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) adalah kelompok rujukan saya, di samping menjadi kelompok keanggotaan saya. Apapun kelompok rujukan itu, perilaku saya sangat dipengaruhi, termasuk perilaku saya dalam berkomunikasi.

                  Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif
John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar. Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah, misalnya transplantasi jantung, atau merancang kampanye politik. Kelompok pertemuan adalah kelompok orang yang menjadikan diri mereka sebagai acara pokok. Melalui diskusi, setiap anggota berusaha belajar lebih banyak tentang dirinya. Kelompok terapi di rumah sakit jiwa adalah contoh kelompok pertemuan. Kelompok penyadar mempunyai tugas utama menciptakan identitas sosial politik yang baru. Kelompok revolusioner radikal; (di AS) pada tahun 1960-an menggunakan proses ini dengan cukup banyak.
Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur parlementer.
Pengaruh kelompok pada perilaku komunikasi
  1. Konformitas.
Konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai akibat tekanan kelompok-yang real atau dibayangkan. Bila sejumlah orang dalam kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu, ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan dan melakukan hal yang sama. Jadi, kalau anda merencanakan untuk menjadi ketua kelompok,aturlah rekan-rekan anda untuk menyebar dalam kelompok. Ketika anda meminta persetujuan anggota, usahakan rekan-rekan anda secara persetujuan mereka. Tumbuhkan seakan-akan seluruh anggota kelompok sudah setuju. Besar kemungkinan anggota-anggota berikutnya untuk setuju juga.
  1. Fasilitasi sosial.
Fasilitasi (dari kata Prancis facile, artinya mudah) menunjukkan kelancaran atau peningkatan kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelompok mempengaruhi pekerjaan sehingga menjadi lebih mudah. Robert Zajonz (1965) menjelaskan bahwa kehadiran orang lain-dianggap-menimbulkan efek pembangkit energi pada perilaku individu. Efek ini terjadi pada berbagai situasi sosial, bukan hanya didepan orang yang menggairahkan kita. Energi yang meningkat akan mempertingi kemungkinan dikeluarkannya respon yang dominan. Respon dominan adalah perilaku yang kita kuasai. Bila respon yang dominan itu adalah yang benar, terjadi peningkatan prestasi. Bila respon dominan itu adalah yang salah, terjadi penurunan prestasi. Untuk pekerjaan yang mudah, respon yang dominan adalah respon yang banar; karena itu, peneliti-peneliti melihat melihat kelompok mempertinggi kualitas kerja individu.
  1. Polarisasi.
Polarisasi adalah kecenderungan ke arah posisi yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok para anggota mempunyai sikap agak mendukung tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan lebih kuat lagi mendukung tindakan itu. Sebaliknya, bila sebelum diskusi para anggota kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan menentang lebih keras.

CARA-CARA MENGATASI KONFLIK
Mengatasi konflik antara pihak-pihak yang bertikai tergantung pada kemauan pihak-pihak yang berkonflik untuk menyelesaikan masalah. Selain itu juga peran aktif dari pihak luar yang menginginkan redanya konflik. Berikut adalah cara-cara untuk mengatasi konflik yang telah terjadi :
  1. Rujuk
merupakan usaha pendekatan demi terjalinnya hubungan kerjasama yang lebih baik demi kepentingan bersama pula.
  1. Persuasi
mengubah posisi pihak lain, dengan menunjukan kerugian yang mungkin timbul, dan bukti factual serta dengan menunjukkan bahwa usul kita menguntungkan dan konsisten dengan norma dan standar keadilan yang berlaku.
  1. Tawar-menawar
Suatu penyelesaian yang dapat diterima oleh kedua belah pihak dengan mempertukarkan kesepakatan yang dapat diterima.
  1. Pemecahan masalah terpadu
Usaha pemecahan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua belah pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternative pemecahan secara bersama dengan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.
  1. Penarikan diri
Cara menyelesaikan masalah dengan cara salah satu pihak yang bertikai menarik diri dari hubungan dengan pihak lawan konflik. Penyelesaian ini sangat efisien bila pihak-pihak yang bertikai tidak ada hubungan. Bila pihak-pihak yang bertikai saling berhubungan dan melengkapi satu sama lain, tentu cara ini tidak dapat dilakukan untuk menyelesaikan konflik.
  1. Pemaksaan dan penekanan
Cara menyelesaikan konflik dengan cara memaksa pihak lain untuk menyerah. Cara ini dapat dilakukan apabila pihak yang berkonflik memiliki wewenang  yang lebih tinggi dari pihak lainnya. Tetapi bila tidak begitu cara-cara seperti intimidasi, ancaman, dsb yang akan dilakukan dan tentu pihak yang lain akan mengalah secara terpaksa.
 
DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Anwar Arifin, 1984, Strategi Komunikasi: Suatu Pengantar Ringkas, Bandung: Armico
Wiryanto, 2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia
Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya
Jalaludin Rakhmat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya